KABARDIGITAL.INFO, BOJONEGORO – Sebagai bentuk keperdulian Pertamina EP Cepu (PEPC) terhadap lingkungan dan masyarakat di wilayah proyek oprasi Lapangan Gas Jambaran-Tiung Biru (JTB) dengan memberikan program Pelibatan dan Pengembangan Masyarakat (PPM). Hal ini guna mendukung kesejahteraan petani hutan lokal.
Pengoperasian kandang budidaya domba yang dikelola oleh Koperasi Produsen Rimba Tani Sejahtera di area Wana JTB Farm bertempat di Dusun Poh Wayang Desa Bandungrejo Kecamatan Ngasem, Kabupaten Bojonegoro ini, sebagai solusi kepada petani untuk membuang limbah sisa pertanian yang sebelumnya di kelola dengan cara di bakar.
Ketua Kelompok ternak Lamidi, menjabarkan bahwa awal mula terbentuknya kelompok ternak tersebut merupakan usulan yang diberikan oleh pihak PEPC akibat banyaknya petani membakar limbah pertanian usai masa panen tiba di wilayah tersebut.
“Awalnya karena di lokasi yang berdekatan dengan proyek JTB tidak boleh Bakar-bakar setelah panen jagung, makanya diberikan solusi limbah panen jagung untuk pakan ternak domba. Dan yang di data merupakan orang tani yang tidak punya pekerjaan tetap,” tuturnya, Kamis (15/10/2026).
Associate Community Relation & CID Zona 12, Bedhah Adityo Nugroho, memaparkan bahwa ini merupakan progam petani hutan JTB. Berawal adanya sosialisasi terhadap masyarakat sekitar agar tidak melakukan pembakaran sisa pertanian di area proyek JTB secara sembarangan,hingga muncullah inovasi tersebut.
“Inovasi ini kami lakukan agar masyarakat tidak membakar limbah pertanian secara sembarangan yang berakibat menimbulkan api dan asap karena jika hal itu terjadi, dan tidak terkontrol maka akan menggangu operasional proyek JTB. Karena di dalam itu terdapat sensor termal maupun sensor asap, yang mana jika sensor tersebut mendeteksi asap maupun suhu panas maka, akan langsung shutdown,” paparnya.
Oleh sebab itu, PEPC memberikan edukasi untuk para petani disekitar, mengelola limbah pertanian menjadi limbah konsentrat dan juga mengolah menjadi kompos. Berternak domba merupakan salah satu cara mengolah konsetratnya.
“Kambing ini merupakan sarananya, konsetratnya diolah dari limbah jagung, tebon, janggel dan untuk kotoran kambingnya nanti diolah juga bersama limbah pertanian yang tersisa,” ucap Bedhah Adityo Nugroho.
Ditempat yang sama, Head of Comm.Rel & CID Zona 12, Agung Yunito Yahya menambahkan kegiatan yang berlangsung ini merupakan bentuk keperdulian PEPC Zona 12 terhadap masyarakat agar dapat tumbuh dan berkembang bersama.
“Benar ada beberapa tujuan yang ingin kita lakukan bersama, yaitu dapat berkembang bersama, memiliki hubungan yang baik dan dapat mengatasi permasalahan yang timbul dari kedua sisi. Seperti adanya permasalahan resiko api yang bukan hanya dari sistem JTB memonitor, tapi juga ada dari sistem nasional BMKG dan ini sudah terintegrasi melalui satelit bahkan, dari pihak kepolisian akan menghubungi pihak kami jika hal tersebut tertangkap oleh satelit secara nasional,” tambahnya.
Maka dari itu, muncul solusi penanganan melalui progam ternak domba ini agar hilangnya kebiasaan petani membakar limbah pertanian dengan memberikan limbahu untuk pakan ternak serta mengatasi resiko kebakaran lahan pertanian hutan, terutama di musim kemarau seperti saat ini.
Kehadiran Koperasi Produsen Rimba Tani Sejahtera diharapkan mampu mengonsolidasikan para peternak lokal agar memiliki daya tawar yang lebih baik, pengelolaan pakan yang terintegrasi, hingga akses pemasaran domba yang lebih luas dan efisien.
“Menariknya edukasi kami terbilang berhasil karena mampu menumbuhkan kesadaran dan pengetahuan bagi mereka,” tegasnya.
Progam yang berlangsung pada Tahun 2022 hingga saat ini menggunakan program tanggung jawab sosial perusahaan atau Corporate Social Responsibility (CSR). Secara statistik tingkat pembakaran limbah pertanian telah banyak menurun sekitar 70 persen. Progam ini telah meningkatkan ekonomi petani sekitar yang tergabung dalam Koperasi Produsen Rimba Tani Sejahtera.
