
loading…
Medali emas diraih wakil China, Cui Zhe, dengan angkatan 120 kg, sedangkan perak menjadi milik Tursynay Kabyl dari Kazakhstan dengan 104 kg.
Pencapaian tersebut sekaligus memperpanjang catatan konsistensi Widiasih di Asian Para Games. Atlet asal Bali yang akrab disapa Widi itu sebelumnya meraih perak pada edisi 2014, 2018, dan 2022. Meski kali ini hanya membawa pulang perunggu, ia tetap bersyukur dapat bersaing di tengah kondisi bahu yang belum pulih sepenuhnya akibat cedera robek otot saat mengikuti kejuaraan di Mesir akhir tahun lalu.
“Ini medali perunggu pertama yang saya dapatkan sepanjang keikutsertaan saya di Asian Para Games. Biasanya saya selalu memperebutkan emas dan perak,” ujar Widi.
Widi mengaku tetap berusaha meningkatkan angkatannya demi memperbaiki peringkat dunia sekaligus menjaga peluang tampil di Paralimpiade Los Angeles 2028. Persaingan di kelas 41 kg putri juga semakin ketat dengan kehadiran atlet-atlet muda. Ia menyebut Asian Para Games 2026 kemungkinan menjadi penampilan terakhirnya di ajang tersebut, tetapi belum ingin mengambil keputusan terkait akhir kariernya. Saat ini, ia masih menjalani pemulihan bersama tim medis dan fisioterapis di Solo.
Di balik keberhasilan meraih medali pertama Indonesia, Widi menyimpan kisah emosional tentang mendiang ibunya. Sang ibu meninggal dunia dua pekan sebelum Widi bertanding di Paralimpiade Paris 2024. Kehilangan tersebut mengguncang kondisi mentalnya hingga ia gagal mewujudkan harapan sang ibu untuk meraih tiga medali Paralimpiade secara beruntun. Pengalaman itu menjadi motivasi baginya untuk kembali berjuang dan membawa pulang medali dari Asian Para Games 2026.
